PSK dan Tekanan Sosial Pasca Penutupan Gang Dolly Surabaya

Hera Wahyuni

Abstract


Pekerja seks komersil (PSK) adalah suatu perilaku seksual berganti-ganti pasangan, dapat dilakukan oleh pria maupun wanita. Di Indonesia praktek prostitusi lebih banyak dilakukan oleh wanita dan mudah sekali ditemui di daerah lokalisasi, seperti halnya di gang Dolly Surabaya.  Sebuah kawasan prostitusi yang sudah berdiri sejak 1967. Rencana penutupan gang Dolly  pada tanggal 19 Juni 2014, mulai membuat resah warga sekitar yang rata-rata menggatungkan kehidupannya lewat bisnis prostitusi. Tidak semua PSK di gang dolly adalah warga asli surabaya, rata-rata mereka adalah pendatang. Harapan pemerintah kota surabaya pasca penutupan mereka akan kembali ke daerahnya masing-masing, dan membuka usaha setelah mendapatkan kompensasi (berupa uang). Tetapi kenyataannya tidak semudah itu apakah warga tempat asal tinggal mereka bisa menerimanya karena dalam kehidupan sosial para PSK / Mantan PSK banyak menghadapi tekanan-tekanan sosial, selain itu mereka kurang mendapat tempat dalam struktur masyarakat. Sehingga ini akan menimbulkan masalah baru, karena tidak semua PSK bisa kuat menerima keadaan ini, bila mereka harus kembali ke daerah asal mereka. Karena sebagian besar masyarakat menganggap PSK itu hina, tentu PSK akan berpikir orang-orang disekitarnya memusuhi dan mengucilkannya, sehingga PSK merasa takut untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang dianggapnya tidak menerima eksistensinya di tengah masyarakat akibat status pekerjaannya. Para PSK yang sudah di pulangkan dan diberi keterampilan melalui pembinaan, tidak hanya dilepas begitu saja setelah penutupan lokalisasi, tapi terus diberdayakan agar bisa mandiri. Dengan terus melakukan pendampingan, sehingga mereka tidak merasa ditinggalkan. Mereka dibina dan di karyakan dengan bisa menciptakan lapangan kerja yang halal, dan dipantau oleh pihak setempat untuk terus mengembangkan hasil-hasil karyanya, sebagai hasil ketrampilan/kecakapan yang akan menjadi penghasilannya dan menyelamatkan tingkat perekonomian mereka.

Keywords


PSK, Tekanan Sosial, Gang Dolly, psikologi

References


Astry Sandra Amalia. “Dampak Lokalisasi PSK terhadap Masyarakat Sekitar (studi Kasus Di Jalan Soekarno-Hatta Km.10 Desa Purwajaya Kabupaten Kutai Kartanegara)” . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman, 2012.

Hasan Alwi, dkk. “Kamus Besar Bahasa Indonesia” . Jakarta: Balai Pustaka, 2001.

Horton, Paul B, Hunt, Chester L. 1984. “Sosiologi”. Terjemahan : Amirudin Ram, Titas Sobari. Jakarta : Erlangga. 1987.

Hurlock,Elizabeth B. “Psikologi Perkembangan-Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan”. Jakarta : Erlangga. 2002.

Kartono Kartini. “Patologi Sosial Jilid I”. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005

Koentjoro. “On The Spot Tutur Dari Sarang Pelacur” . Yogyakarta : Tinta, 2004

Purnomo Tjahyo, Ashadi Siregar. “Dolly: Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus

Kompleks Pelacuran Dolly” : Grafiti Pers, 1982.

Puspitosari Hesti, Pujileksono Sugeng, “Waria dan Tekanan Sosial”. Malang : UMM Press, 2005.

Ranika Agustin Nurcahyani, “Persepsi Pekerja Seks Komersial (PSK) tentang Norma Kehidupan dan Penghidupan Lokalisasi Argorejo Kelurahan Kalibanteng Kulon Kota Semarang” .2011 : thesis, Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Merdeka.com. “Lokalisasi Bangunsari ditutup, eks PSK beralih profesi”Reporter : Moch. Andriansyah | Minggu, 17 November 2013 01:04

Merdeka.com. “Edisi Khusus Penutupan Dolly”. Minggu, 17 November 2013/ 07:36:00

TEMPO.CO, Surabaya. “Prostitusi di Dolly, Siapa yang Diuntungkan?”. Sabtu, 12 Oktober 2013 / 08:46.




DOI: https://doi.org/10.21107/personifikasi.v5i1.6567

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
Personifikasi by Universitas Trunojoyo Madura is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.