KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI FISIK (BATIMETRI, PASANG SURUT, GELOMBANG SIGNIFIKAN DAN ARUS LAUT) PERAIRAN TELUK BUNGUS

Try Al Tanto, Semeidi Husrin, Ulung Jantama Wisha, Aprizon Putra, Radha Karina Putri, - Ilham

Abstract


Perairan Teluk Bungus berlangsung cukup banyak aktivitas, namun belum ada data-data valid berkaitan dengan parameter oseanografi perairannya. Perlu dilakukan kajian dinamika pesisir, terutama berupa kajian oseanografi fisik, tujuannya adalah diperoleh informasi dasar parameter oseanografi fisik yang berguna untuk kelancaran aktifitas di sekitar perairan. Data batimetri diperoleh dari peta yang dikeluarkan oleh Dishidros, dianalisis berupa tampilan peta 2D dan 3D. Data pasang surut air laut terukur dari alat ukur ADCP yang memiliki sensor tekanan, merupakan alat ukur utama untuk arus laut. Sedangkan data gelombang diperoleh dari ECMWF berupa tinggi gelombang signifikan. Kedalaman laut Teluk Bungus tergolong dangkal, yaitu mencapai 30 m. Bentuk relief dasar lautnya tidak terlihat dampak signifikan dari pengaruh samudera, karena perairan cukup terlindungi oleh bentuk teluk. Pasang surut yang terjadi adalah tipe campuran dominan ganda, tunggang pasut sebesar 139.30 cm (Oktober - November 2014). Gelombang signifikan perairan Teluk Bungus dan sekitarnya (Januari - Oktober 2013) adalah 0.42-1.7 m. Tinggi gelombang cukup besar terjadi terutama tanggal 9 Oktober 2013 hingga 11 Oktober 2013 yaitu 1.5-1.7 m. Arus laut perairan Teluk Bungus umumnya didominasi oleh pengaruh arus zonal, baik arus kedalaman 10.5 m maupun arus pada kedalaman 18.5 m. Kecepatan rata-rata arus kedalaman 10.5 m sebesar 0.0477 m/s, namun terjadi arus cukup besar 0.5240 m/s tanggal 11 November 2013 pukul 14.50 WIB dengan arah Tenggara-Selatan. Pada kedalaman 18.5 m, kecepatan arus rata-rata 0.3799 m/s dan arus maksimum 0.9320 m/s tanggal 14 November 2013 pukul 22.00 WIB dengan arah Barat Daya.

 

CHARACTERISTICS OF PHYSICAL OCEANOGRAPHY (BATHYMETRY, TIDE, WAVE SIGNIFICANT HEIGHT AND SEA CURRRENT) IN BUNGUS BAY

Bungus bay waters have a lot of activity, but there is no reliable data related to their oceanographic parameters. It is necessary to study their physical oceanography, to acquire basic information of physical oceanographic characteristics that are useful for the daily activities around these waters. Bathymetric data obtained from the map issued by Dishidros, analyzed in the form of 2D and 3D map display. Tide data measured from ADCP measuring devices, a measuring instrument for the major ocean currents, and also HOBO which has a pressure sensor in the device. While the wave data obtained from ECMWF in the form of significant wave height, but it also contained model / forecasting a significant wave height of BMKG. The depth of the bay of Bungus relatively shallow sea, which reaches 30 m. Form of the sea bottom relief not seen a significant impact on the influence of the ocean, because the waters are adequately protected by the shape of the bay. Tide that occur is predominantly a mixture of type double, 139.30 cm (October-November 2013). Significant wave Bungus bay waters and surrounding areas (January-October 2013) is 0.42 to 1.7 m and 0.3 to 2.5 m (August-December 2015). Largest wave height occurs mainly dated October 9, 2013 until October 11, 2013 is 1.5-1.7 m, and 8 to 14 September 2015 to reach 2.25 m. Currents in Bungus bay waters generally dominated by the influence of zonal flows, both the depth current of 10.5 m and 18.5 m. The average velocity of depth current of 10.5 m by 0.0477 m/s, but there was a large current 0.5240 m / sec November 11, 2013 at 14:50 am with the South-East direction. At a depth of 18.5 m, the average current velocity 0.3799 m/s and a maximum current of 0.9320 m/s on 14 November 2013 at 22:00 pm at South West direction.

 

Keywords: Bathymetry, Tidal, Wave, Current, Bungus Bay


Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Anonim. (2007). Air Laut yang Selalu Bergerak. Bali Post Online. http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/1/15/l2.htm. [Akses Bulan Maret 2007].

Ariana, K. D. (2002). Pemetaan Batimetri dan Karakteristik Dasar Perairan Dangkal di Perairan Pulau Dangar - Provinsi NTB dengan Data Satelit Penginderaan Jauh. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 57 hlm.

Bakosurtanal. (2007). Prediksi Pasang Surut 2008. Bidang Medan Gayaberat dan Pasang Surut, Pusat Geodesi dan Geodinamika: Cibinong. 418 hlm.

Dishidros. (2006). Peta Bathymetri Sumatera - Pantai Barat "Pariaman hingga Pulau Nyamuk". Cetakan ke V 2006. Koreksi BPI No.24 Tahun 2011.

ECMWF. Data Gelombang Signifikan. http://apps.ecmwf.int/datasets/. [Akses Tanggal 3 Februari 2013].

Fadilah, Suripin, & Sasongko, D. P. (2014). Menentukan Tipe Pasang Surut dan Muka Air Rencana Perairan Laut Kab. Bengkulu Tengah Menggunakan Metode Admiralty. Maspari journal, 6(1), 1-12.

Hoekstra, P., Lindeboom, H., Bak, R., Bergh, G. V. D., Tiwi, D. A., Kiswara, W., Meesters, E., Noor, Y., Sukmantalya, N., Nuraini, S., & Weering, T.V. (2002). An Integrated Coastal Zone Management Study. Staple (Ed.) Scietific Programme Indonesia-Netherlands Procesings of a workshop held on February 12th 2002. Bandung. Indonesia. p: 59-70.

Kurniawan, R., Habibie, M. N., & Suratno (2011). Variasi Bulanan Gelombang Laut di Indonesia. Jurnal Meteorologi dan Geofisika, 12(3), 221-232.

LPSDKP – Badan Litbang KKP. (2014). Laporan Tahunan: Kerentanan Ekosistem Kawasan Teluk Bungus terhadap Perubahan Tata Guna Lahan. Bungus. Padang. 131 hlm.

Nugroho, D. S., & Anugroho, A. (2007). Studi Pola Sirkulasi Arus Laut di Perairan Pantai Provinsi Sumatra Barat. Ilmu Kelautan. 12(2), 79-92.

Poerbandono (2004). Pemecah Ombak Timbulkan Masalah Baru. Bandung. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0604/10/cakrawala/lainnya06.htm. [Akses Bulan April 2007].

NOAA. (2016). Tidal Datums. https://tidesandcurrents.noaa.gov/datum_options.html [Akses Tanggal 2 April 2016].

Samskerta, I. P., Bachtiar, H., & Riandini, F. (2011). Perubahan Karakteristik Pola Arus Laut Bali Terkait Kejadian ENSO. Kolokium Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air. 12 hlm.

Silalahi, S. http://www.academia.edu/ 7203382/Modul_1_Admiralty. [Akses Tanggal 14 November 2013].

Stewart, R. H. (2008). Introduction to Physical Oceanography. Department of Oceanography. Texas A & M University. 345 hlm.

Surbakti, H. (2007). Pasang Surut. https://surbakti77.wordpress.com/2007/09/03/pasang-surut/. [Akses Tanggal 18 Juni 2015].

Sudjono, Evie, H., Setiawan, A., Hadi, S., & Ningsih, N. S. (2011). Studi Komponen Pasang Surut Perairan Dangkal (Over and Compound Tides) Model Kanal 1 Dimensi Dengan Menggunakan Metoda Asimilasi Data Variasional. Jurnal ITKT, 3(1), 1-12.

Tanto, T. (2009). Kinerja OTT PS 1 Sebagai Alat Pengukur Pasang Surut Air Laut di Muara Binuangeun, Provinsi Banten. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 84 hlm.

Wisha, U. J., Husrin, S., & Prihantono, J. (2015). Hydrodynamics Banten Bay During Transitional seasons (August-September). J. Ilmu Kelautan, 20(2), 101-112.

Wyrtki, K. (1961). Physical Oceanography of the Southeast Asian Waters. Naga Report Volume 2. The University of California Scripps Institution of Oceanography La Jolla: California. 195 hlm.

Yulius, Prihatno, H. & Suhelmi, I. R. (2010). Pola Spasial Kedalaman Perairan di Teluk Bungus, Kota Padang. Prosiding Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI), hal. 205-212.




DOI: http://dx.doi.org/10.21107/jk.v9i2.1240

Refbacks



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.




 INDEXED BY:
p-ISSN   : 1907-9931